Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016
Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016

Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016

Diposting pada

Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016 – Kisah ini menurut pencerita dialami oleh rekan nya yang bekerja sebagai houseman atau gardener di sebuah keluarga kaya mantan pejabat di Republik ini. Biasalah namanya mantan pejabat pasti kaya! Tidak usah heran apalagi iri. Semua sudah punya rejeki sendiri-sendiri. Kalau orang-orang seperti kita ini

Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016 Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016 Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016 Cerita Dewasa Ngentot Dengan Sekretaris Cantik
Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016

memang hanya ditakdirkan jadi “Balungan Kere”, jadi hidupnya selalu serba susah.., iya kan? Apalagi jaman

sekarang semua serba susah.

 

Mau cari kerja susah, soalnya lagi banyak PHK! Mau ternak unggas susah juga, soalnya lagi musim flu

burung. Mau piara burung walet juga susah, habis banyak sekali penjarahan. Mau piara ikan juga susah,

habis lagi banyak polusi kayak di Buyat Pante itu. Apalagi mau piara monyet, lebih susah lagi, soalnya

monyetnya pada suka baca cerita dewasa, Ha.. Ha.. Ha..! Monyetnya lebih suka yang porno-porno! Payah

kan??

agar tidak bertele-tele segera saja kumulai kisah ini.

Cerita Mesum Cinta Terlarang Terbaru 2016 – Namaku Hasan. Usiaku saat ini 57 tahun, pekerjaanku adalah sebagai penjaga merangkap pembantu rumah tangga, pada sebuah keluarga mantan pejabat sebut saja namanya Pak Subroto . Aku adalah mantan tentara dengan pangkat rendahan. Aku ikut keluarga Pak Subroto  sudah 30 tahun. Saat itu Pak Subroto  masih menjadi

seorang pegawai rendah di sebuah instansi pemerintah. Namun karena kepandaiannya, karir Pak Subroto  terus

menanjak. Aku mengabdi pada keluarga ini telah cukup lama hingga keluarga ini berhasil menjadi keluarga

terpandang dan terhormat di masyarakat.

 

Pak Subroto  memiliki dua orang putri yang cantik dan masing-masing telah berkeluarga, namanya

Shifa  dan Shana . Di usianya yang telah pensiun ini, Pak Subroto  menikmati sisa usianya dengan melakukan

usaha perkebunan yang dimilikinya di sebuah daerah di Jawa Tengah. Pak Subroto  menghabiskan waktunya

dengan kegiatan bisnis perkebunan teh di daerah Tawangmangu di dekat Solo sana.

 

Dengan kegiatan barunya ini Pak Subroto  lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri di perkebunan

miliknya. Mereka memiliki sebuah kebun Teh yang cukup luas di sana. Dan di perkebunan mereka itu juga

berdiri sebuah home stay yang cukup megah. Aku sering diajak beliau kesana dahulu saat beliau masih aktif di

pemerintahan.

 

Sejak Pak Subroto  pensiun, jarang sekali beliau tinggal di Jakarta. Beliau hanya sesekali datang ke

Jakarta ini untuk meninjau rumahnya yang aku jaga, juga melihat cucunya dari putri pertamanya Shana .

Shana  tinggal dengan suaminya di daerah Kemang, sedangkan putri keduanya, Shifa  menempati rumah yang

aku tinggali ini bersama suaminya, Andri. Shifa  belum memiliki anak, karena mereka menikah baru 6 bulan

yang lalu.

 

Neng Shifa  dan suaminya Andri sama-sama bekerja di perusahaan swasta yang berlainan.  Jadi,,, pasangan

suami istri ini selalu berangkat pagi dan pulang malam bersama sama, sehingga rumah megah yang

mereka tempati praktis dipercayakan padaku selama mereka bekerja di siang hari dan berada di bawah

pengawasanku selama malam hari. Tugasku selain membersihkan rumah adalah menjaga keamanan rumah beserta

isinya.

 

Aku telah dipercaya Pak Subroto  untuk menjaga rumahnya ini berikut kedua putri dan menantunya itu. Jadi

secara otomatis aku pun harus menjaga majikanku Shifa  yang memang menetap bersama denganku. Shifa  usianya

baru 23 tahun. Dahulu aku sempat melihat mereka berdua lahir, jadi kedua putri mereka sudah tidak asing

lagi bagiku, dan mereka pun berdua telah menganggap aku dan istriku sebagai bagian dari keluarga ini.

 

Dulu aku memang tinggal berdua dengan istriku di rumah ini. Namun sejak istriku ikut dengan anakku

satu-satunya yang menjadi polisi dan berdinas di daerah Riau praktis hanya aku yang ikut dengan Neng

Shifa . Anakku waktu sekolah dibantu oleh Pak Subroto , sehingga aku sangat berhutang budi pada beliau.

Anakku kebetulan telah menikah dan mendapat tugas di Riau. Aku memang sempat diajak ke Riau, namun karena aku

merasa berhutang budi dan diberi tanggung jawab dan telah diamanahi Pak Subroto , ajakan itu aku lewatkan

saja sebab sangat sulit mencari orang yang sebaik dan sebijaksana Pak Subroto . Selama itu pun aku tinggal

di rumah Pak Subroto  bersama Shifa  dan suaminya.

 

Semua pekerjaan rumah selalu aku selesaikan dengan baik dan lancar. Hampir semua waktuku aku habiskan

untuk merawat rumah dan mobil majikanku ini. Neng Shifa  pun sering memberiku uang lebih karena aku

memang nggak neko neko. Shifa  adalah potret wanita masa kini yang cantik serta memiliki kulit yang

putih bersih. Menurut pendapatku wajah Shifa  tidak beda jauh dari

artis-artis sinetron yang sering aku lihat di televisi.

 

Kalau tidak terlalu berlebihan, profil Neng Shifa  agak-agak mirip dengan artis yang sering muncul di TV

saat ramai-ramainya kampanye Pilpres kemarin yang mengiklankan mantan menteri yang desersi. Walaupun

iklan itu bagiku kayaknya cukup kampungan dan terkesan bodoh, namun aku tak peduli..

Bagiku yang penting artis itu sangat seksi. Persis sekali dengan Neng Shifa , gairahsex.com  apalagi kalau Neng Shifa

juga pakai kacamata hitam itu. Memang wajah Neng Shifa  sangat cantik dan penampilannya begitu oke! Aku

maklum saja, sebab bagi mereka yang memiliki uang lebih dan kehidupan yang mapan, untuk perawatan

kecantikan dan penampilan amat mudah. Beda jauh dari aku yang hanya cuma seorang pembantunya.

 

Sebagai pembantu merangkap penjaga rumah, setiap malam aku wajib memeriksa seluruh keadaan rumah! Aku

harus memastikan pintu dan jendela terkunci dengan aman dan kondisi keamanan rumah harus aman dan

terkendali. Soalnya jaman sekarang lagi banyak teroris. Salah-salah nanti rumah majikanku bisa dijadikan

sasaran pengeboman! Kan bisa gawat.. Bisa-bisa aku kehilangan pekerjaan! Saat memeriksa kondisi rumah

kadang-kadang aku melewati kamar Shifa  dan suaminya.

 

Sering aku mendengar dengus nafas dan rintihan kenikmatan yang keluar dari mulut pasangan suami istri

itu. Sebagai laki-laki aku tentu saja penasaran ingin mengintip dan mengetahui apa yang terjadi dengan

pasangan itu. Untuk itu aku berniat untuk membuat celah di antara lipatan horden yang menutupi jendela

kamar mereka yang sangat lebar seukuran 6 meter kali 4 meteran itu. Bagiku tidak terlalu sulit untuk

membuat celah di antara lipatan kain horden itu. Karena akulah yang selalu menutup horden itu sebelum

Neng Shifa  dan suaminya pulang.

 

Siang itu aku mengakali jendela kamar Neng Shifa  agar aku dapat melihat dan memperhatikan tingkah laku

kedua pasangan yang berlainan jenis itu saat mereka bersenggama. Aku sangat penasaran ingin melihat

mereka bercinta, karena suara yang terdengar dari luar kamar sangat menggairahkan bagi telinga tuaku.

Suara rintihan Neng Shifa  sangat keras terdengar seperti suara kucing betina yang sedang dientot

jantannya!

 

Malam itu seperti saat yang kuperkirakan mereka mulai melakukan aktivitas seksual, aku segera keluar

dari kamarku yang terletak di pojok belakang. Dengan langkah pelan kudekati kamar mereka dan mengambil

posisi dekat jendela dimana sengaja kubuat celah pada kain hordennya. Keadaan di luar kamar yang gelap

sangat membantuku dalam menuntaskan tugas pengintaianku. Kudekatkan wajahku ke kaca dan melihat ke dalam

kamar yang terang dari celah yang kubuat. Benar saja pemandangan yang kulihat sangat mendebarkan darah

tuaku. Sebagai pasangan muda tentu masa masa saat itu adalah masa yang penuh dengan madu kenikmatan

dunia.

 

Apa yang kulihat benar-benar membuat jantungku berdebar dan gairahku meningkat. Aku melihat kedua tubuh

telanjang anak majikanku dan menantunya sedang bergumul di atas kasur yang empuk. Tubuh putih mulus Neng

Shifa  saat itu sedang menggelepar-gelepar saat lidah suaminya, Andri menyusuri setiap jengkal kulitnya.

Sungguh pemandangan yang kontras! Seluruh tubuh Neng Shifa  yang putih mulus tanpa cacat sangat kontras

dengan warna hitam rambut yang memenuhi gundukan selangkangannya yang lebat! Ya.. Hanya daerah itulah

yang tampak hitam di tubuh Neng Shifa !

 

Aku sangat jelas dapat melihat betapa selangkangan Neng Shifa  sangat tembam dan munjung ke atas seperti

setangkup bakpao namun warnanya hitam karena ditumbuhi rambut kemaluan yang lebat! Itulah mungkin

bedanya dengan bakpao! Kalau bakpao warnanya putih.. Tapi selangkangan Neng Shifa  penuh ditutupi rambut

berwarna hitam! Namun keduanya sama-sama enak dinikmati! Yang satu bikin merem melek kekenyangan yang

satunya lagi bikin merem melek karena ketagihan!

 

Tak lama kemudian aku melihat kedua tubuh manusia yang telanjang itu saling berdempetan menyatu. Tubuh

putih mulus Neng Shifa  saat itu berada di bawah tubuh suaminya yang juga tampan itu. Suaminya saat itu

sedang melakukan gerakan maju mundur dan Neng Shifa  tampaknya dalam keadaan kepayahan menahan bobot

suaminya dan gairah nafsunya. gairahsex.com  Kedua kaki majikanku yang panjang dan putih itu berada di atas bahu

suaminya. Sedang tangan suaminya saat menggenjot tubuh Shifa  masih berada di dada putih itu dan

meremasnya dengan kasar. Kulihat pantat Neng Shifa  bergoyang dan berputar setiap kali pantat suaminya

menghunjam selangkangannya. Kedua tubuh telanjang itu saling berkutat satu sama lain.

 

Tiba-tiba posisi menjadi terbalik. Kini tubuh Neng Shifa  yang telanjang sudah berada di atas tubuh

suaminya. Ia bergerak liar seperti seorang joki wanita yang sedang memacu kuda! Kedua bukit payudara itu

berguncang-guncang seiring dengan gerakannya. Dengan kedua tangan bertumpu di atas dada suaminya, Neng

Shifa  menggerakkan pantatnya yang bulat dan mulus maju mundur. Rambutnya sudah acak-acakan karena

gerakannya yang liar. Lalu kulihat tubuh telanjang Neng Shifa  terhentak-hentak dan gerakannya semakin

liar dan beberapa saat kemudian tubuhnya ambruk di atas dada suaminya.

 

Rupanya suaminya belum orgasme! Hal ini kuketahui karena setelah menggulingkan tubuh telanjang Neng

Shifa , Mas Andri suaminya segera bangun dan menyeret tubuh telanjang istrinya hingga menungging di sisi

tempat tidurnya. Kedua kaki Neng Shifa  menjuntai ke lantai. Pantatnya yang indah semakin kelihatan

jelas dari tempatku mengintip, karena posisinya membelakangiku. Aku melihat betapa gundukan bukit

kemaluan Neng Shifa  begitu indah saat menungging dalam posisi itu! Mas Andri segera menempatkan diri di

belakang pantat Neng Shifa  dan kembali mengayunkan pantatnya maju-mundur. Pandanganku kini tertutup

tubuh Mas Andri.

 

Entah berapa lama aku tak tahu. Yang jelas saat itu kulihat Mas Andri semakin cepat mengayunkan

pantatnya menghunjamkan ke arah pantat Neng Shifa . Tubuh Mas Andri meliuk-liuk dan akhirnya ambruk dan

menindih tubuh Neng Shifa  dengan ketat. Baru kali ini aku memperhatikan kehalusan dan mulusnya tubuh

majikan putriku ini. Selama aku kerja pada orang tuanya aku tidak memperhatikan perkembangan tubuh

majikan putriku itu.

 

Aku sempat menahan nafas saat tubuh keduanya menyatu pada bagian bawahnya juga diikuti oleh bagian

atasnya. Sebagai laki-laki yang normal aku merasa terpancing birahiku saat itu. Namun apalah dayaku yang

hanya seorang pembantu di keluarga ini. Aku yang sudah sangat terangsang segera meremas batang

kemaluanku sendiri dan melakukan onani sambil mengintip. Setelah aku orgasme aku segera menuju kamarku

sendiri dan terus tidur.

 

Esok paginya saat aku bangun dan beres-beres aku melihat majikan putri keluar dari kamarnya dengan wajah

yang sedikit kusut dan tampak agak layu. Aku biarkan saja kejadian itu. Mungkin dia ada masalah dengan

suaminya atau apalah aku tak mau tanya pada nya. Seperti biasanyapun pagi itu aku menghidangkan makanan

kesukaan majikanku itu dimeja makan. Tidak lama kemudian mereka keluar kamar beiringan untuk sarapan

pagi sebelum berangkat ke kantor.

 

Tiba-tiba saat mereka sarapan itu aku dipanggil. Suaminya bilang padaku bahwa ia akan tugas keluar kota

mungkin selama 2 minggu karena ada masalah di kantornya. Suaminya titip padaku untuk menjaga rumah dan

istrinya padaku. Dengan patuh aku sanggupi permintaan suaminya itu. Dan sejak saat itu pun aku semakin

bertambah tugas dengan memastikan keadaan majikan putri itu.

 

Beberapa hari ini aku jadi kehilangan kesempatan untuk melihat aktifitas kamar majikan putri itu. Aku

jadi susah tidur, padahal aku setiap hari sebelumnya selalu melihat aktifitas di kamar itu dan sempat

bermasturbasi barulah aku tertidur. Memang aku akui di usiaku yang tidak muda lagi ini libidoku sering

timbul. Namun kepada siapa aku akan menyalurkannya, sedang istriku di Sumatera bersama anakku.

 

Untuk memenuhi hasrat libidoku, pada malam yang dingin itu aku mengintip majikanku itu di kamarnya.

Rupanya ia masih belum tidur dan hanya berbaring di ranjang. Tampaknya ia sedang merindukan belaian dari

suaminya. Namun karena suaminya sedang tidak tidak ada ia menjadi kelihatan gelisah di tempat tidurnya.

Aku memperhatikan Neng Shifa  selalu menggeser geserkan guling di ranjangnya yang luas itu ke arah

kemaluannya.

 

Aku tahu saat itu Neng Shifa  ingin kehangatan. Apalagi hawa dingin AC di kamarnya membuatnya tampak

kehausan. Tak lama kemudian kulihat tangan Neng Shifa  mulai meraba-raba bagian selangkangannya dari

luar gaun tidurnya yang sudah mulai awut-awutan dan menyingkapkan pahanya yang mulus. Aku jadi

terangsang dan ingin melihat terus apa yang hendak dilakukannya.

 

Saat sedang asyik-asyiknya memperhatikan tingkah laku anak perempuan majikanku itu aku dikejutkan oleh

suara benda terjatuh dan ada bunyi ‘krasak kresek’. Aku yang saat itu berada dalam kegelapan dapat

dengan leluasa mengintai ke arah datangnya suara itu. Ohh.. Alangkah kagetnya aku. Aku melihat ada 3

orang yang mengendap endap akan masuk ke rumah ini. Mereka telah melompati pintu pagar dan sedang

berjalan ke arah rumah.Cerpen Sex

Sebagai seorang bekas tentara yang telah banyak pengalaman di medan perang, aku lalu menuju arah suara

itu dan dengan samuraiku aku bacok si penjahat itu tanpa tanya lagi. Mereka meringis kesakitan dan minta

ampun padaku. Mereka akhirnya lari dan berusaha menghindar dari kejaran masyarakat yang tahu akan

tindakan mereka. Malam itu akhirnya rumah majikanku ini selamat dari upaya pencurian dan perampokan.

Majikanku Shifa  akhirnya terbangun dan keluar rumah menemuiku. Aku pun menerangkan kejadian yang

sesungguhnya dengan lengkap. Ia pun akhirnya berterima kasih dan minta aku untuk menyelesaikan masalah

itu dengan aparat terkait malam itu.

Setelah memberikan laporan secukupnya, malam itu pun aku pulang ke rumah dan disambut majikanku Neng

Shifa , yang saat itu mengenakan baju kimono tidur. Ia amat mengkhawatirkan keadaanku malam itu. Iapun

telah sempat menelepon suami dan kedua orang tuanya. Dan akupun lalu ditelepon suami dan kedua orangtua

Shifa  agar bisa menjaga Shifa  dengan hati hati. Sempat aku lihat wajah kecemasan di rona muka Shifa

malam itu. Wajahnya yang putih bersih itu terlihat takjub dan khawatir, namun dengan lambat aku

terangkan kepadanya supaya jangan cemas seperti itu.

Malam itu pun lalu kami tidak tidur dan hanya berbicara saja di ruang tamu rumah besar itu. Neng Shifa

kelihatan masih shock atas kejadian itu dan akupun tidak sampai hati meninggalkannya sendirian di ruang

tamu malam itu. Aku menemaninya dan sesekali mataku yang nakal mencuri-curi pandang ke arah sekujur

tubuhnya yang terbalut kimono tidur saat itu. Mata nakalku sempat memperhatikan gundukan bukit dadanya

yang sekal dan berukuran 34B hingga amat menggodaku. Aku tahu nomor itu karena saat mencuci dan menjemur

aku sempat melihatnya dengan seksama jenis dan wangi celana dalam Neng Shifa .

“Neng.. Sudah malam tidur aja dulu.. Biar Mamang jaga di sini” kuanjurkan Neng Shifa  agar segera tidur

karena waktu sudah hampir pukul 2 pagi.

“Ahh.. Enggak Mang.. Shifa  masih takut dengan kejadian tadi! Mamang mau kan jagain Shifa  di kamar”

pinta Neng Shifa  dengan wajah yang masih nampak pucat.

“Wahh.. Mamang enggak berani lancang neng..” aku terkejut dan spontan menolak karena enggak enak harus

masuk kamar majikanku ini.

“Enggak apa-apa kok Mang.. Soalnya aku takut sendirian..” katanya memelas.

Aku jadi tidak tega melihatnya. Entah kenapa malam itupun aku diajaknya ke kamarnya untuk sekedar

berbincang bincang. Katanya ia masih takut dan trauma. Jika saja ada suaminya ia mungkin tidak akan

mengizinkan aku ke kamarnya. Namun hal tabu yang slalu aku jaga slama ini malam itu luntur. Aku masuk ke

kamarnya yang dingin dan harum semerbak itu sekedar hanya untuk menemani anak majikanku itu. Sebagai

laki-laki aku telah memasuki wilayah pribadi putri majikanku itu.

Dengan sedikit berdebar aku mengikuti Neng Shifa  masuk ke kamarnya dan duduk di kursi yang ada di kamar

Neng Shifa . Niat isengku mulai timbul saat kulirik tubuh Neng Shifa  yang sintal terbaring indah di

tempat tidurnya. Dengan sedikit kurang ajar aku mulai berusaha mempengaruhi jiwa dan mental putri

majikanku itu dengan cerita cerita seram tentang perampokan dan horor. Sebagai wanita yang hanya seorang

diri malam itu tentunya ia merasa takut dan amat membutuhkan bantuanku. Neng Shifa  tidak jadi tidur dan

semakin merasa ketakutan. Ia memintaku menemaninya duduk di atas tempat tidurnya. Inilah saatnya insting

kelelakianku bermain.

Dengan tambahan cerita seram akhirnya dengan tanpa paksaan Neng Shifa  aku raih dan kupeluk malam itu di

kamarnya. Ia yang menganggapku sebagai orangtuanya hanya mandah saja saat tubuhnya kudekap di atas

tempat tidurnya. Aku yang sudah banyak makan asam-garam sebagai laki-laki tidak terlalu sulit untuk

menundukkannya. Dengan terus menceritakan hal-hal seram, tanganku mulai mengelus lengan Neng Shifa . Aku

tahu Neng Shifa  sudah mulai tunduk dan takluk padaku. Hal ini kuketahui dari berdirinya bulu-bulu

lembut di lengannya saat kuraba. Nafas Neng Shifa  pun mulai memburu.

Aku mulai memberanikan diri mencium leher bagian belakang telinga Neng Shifa . Tubuhnya mulai sedikit

bergetar atas ciuman dan rangsangan di wilayah peka tubuhnya yang mulus itu. Aku tahu saat itu Neng

Shifa  sedang membutuhkan belaian laki laki. Namun Neng Shifa  memang wanita dan seorang istri yang

baik. Ia tidak begitu saja larut akan alunan gairah yang aku pancarkan saat itu. Ia berusaha menolakku

dan melepaskan pelukanku. Namun malam itu apalah daya seorang wanita seperti Neng Shifa  dibandingkan

aku yang bekas prajurit dan memiliki pengalaman yang lumayan di saat perang.

Aku tak mau mangsa yang sudah di depan mata terlepas begitu saja. Aku harus menuntaskannya. Karena kalau

tidak maka habislah riwayatku. Aku harus mampu menundukannya. Neng Shifa  yang menggeliat berusaha

melepaskan pelukanku, semakin kupeluk erat. Tanganku semakin berani mengelusnya. Kali ini tanganku

mengelus perutnya tepat di atas selangkangannya. Mulutku yang sedang menciumi bagian belakang telinganya

semakin liar bergerak turun ke lehernya. Bulu kuduknya telah berdiri semua. Tubuhnya semakin

menggelinjang dalam pelukanku. Lalu dengan sedikit paksaan, kurebahkan tubuh Neng Shifa  dan mulai

kutindih dan kucumbu.

Tubuhku yang menindih tubuh Neng Shifa  segera menekan bagian selangkangannya. Kedua kakinya

kupentangkan lebar-lebar sehingga aku semakin leluasa menempatkan tubuhku di antara kedua pahanya.

Batang kemaluanku yang sudah mulai mengeras menempel ketat ke selangkangan Neng Shifa  yang hangat itu.

Aku yang sudah sangat lama tidak melakukan hubungan badan semakin tak terkendali. Mulutku dengan rakus

segera menyerbu gundukan bukit payudara Neng Shifa  dari luar kimono tidurnya. Puting payudaranya yang

mulai mengeras di balik beha-nya segera saja menjadi santapan mulutku yang rakus.

“Ohh.. Mmaangg.. Jangg.. Annhh” Neng Shifa  merintih memohon agar aku menghentikan gerakanku. Namun aku

yang sudah kesetanan tak mau berhenti begitu saja. Tanganku yang liar segera bergerak ke bawah dan

menyingkap kimononya dan mengusap-usap pahanya bagian dalam yang sangat mulus. Tanganku terus merayap ke

atas dan akhirnya mulai mengelus-elus gundukan di balik celana dalam Neng Shifa  yang sudah mulai basah.

Aku tahu Neng Shifa  sudah mulai terangsang. Walaupun mulutnya bilang jangan, namun aku tahu ia tak

mungkin dapat menghentikanku.

Tanganku segera menyusup ke balik celana dalamnya yang tipis dan mulai meraba rambut di selangkangan

Neng Shifa . Tanganku segera menyentuh cairan lendir hangat yang mulai membasahi selangkangannya. Aku

yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini segera saja mencari-cari tonjolan di sela-sela lubang

kemaluan Neng Shifa . Karena disitulah titik kelemahan wanita. Jari tanganku segera mempermainkan

tonjolan daging kecil di celah lubang kemaluan Neng Shifa  yang sudah sangat licin dan basah. Mulut Neng

Shifa  tidak lagi menolakku.

Tubuh Neng Shifa  semakin bergetar saat jariku yang lincah bergerak memutar-mutar di atas tonjolan

daging di sela-sela lubang kemaluannya. Napas Neng Shifa  semakin megap-megap. Pantatnya mulai terangkat

sehingga bukit kemaluannya semakin ketat menempel batang kemaluanku yang semakin mengeras. Tak berapa

lama kemudian Neng Shifa  merintih panjang. Tubuhnya berkelojotan di bawah tindihanku. Aku tahu Neng

Shifa  sudah orgasme atas permainan jari-jariku yang sudah berpengalaman. Namun aku terus saja

meneruskan permainan ini. Tanganku tetap meremas dan meraba bukit kemaluannya selama beberapa saat.

Kemudian tanpa perlawanan berarti dari Neng Shifa  aku berhasil membuka seluruh kain penutup tubuhnya

hingga Neng Shifa  telanjang bulat dalam pelukanku. Pemandangan yang sangat indah segera terpampang di

depan mataku. Tubuh Neng Shifa  yang sangat mulus benar-benar membuat jakunku naik turun. Kedua belah

payudaranya yang putih sangat mengkal dihiasi dua puting yang masih berwarna kemerahan sangat

menggairahkan.Cerpen Sex

Perutnya tampak masih sangat rata karena memang belum pernah melahirkan, jadi belum ada guratan sama

sekali. Pinggulnya yang lebar sangat serasi dengan pinggangnya yang ramping. Dan yang paling membuat

mataku terbelalak adalah guratan kecil berwarna merah yang melintang di tengah-tengah gundukan bukit

membusung di kemaluannya yang lebat ditumbuhi rambut.

Lalu tanpa membuang waktu aku segera melepas kaus bututku dan memerosotkan celana kolorku hingga aku pun

telanjang bulat. Aku segera menindihnya dan menggangkankan kedua kakinya lebar-lebar. Batang kemaluanku

yang sudah mengeras menempel ketat di selangkangan Neng Shifa  yang hangat. Mulutku segera menyergap

kedua bukit payudaranya yang indah itu dengan rakus. Kali ini tanpa dihalangi kain beha dan kimono lagi.

Lidahku segera menjilat kedua bukit payudara Neng Shifa  yang putih kenyal itu bergantian. Bibirku

mengulum puting payudaranya yang mencuat. Hal ini membuat mulut Neng Shifa  mendesis-desis seperti orang

kepedasan. Tubuhnya mulai menggelinjang hingga aku merasa betapa batang kemaluanku yang menempel ketat

di selangkangannya mulai tergesek-gesek daging hangat dan licin karena sudah sangat basah.

“Amm.. punhh Maangg.. jaangg.. aannhh.. Maangg.. ouchh..” desis Neng Shifa  antara menolak dan pasrah.

Aku tak peduli. Dalam benakku hanya ada tekad untuk menuntaskan hasratku. Aku tak peduli apapun juga.

Biarlah urusan dipikir belakangan! Yang penting tembak duluan! Ayo blehh sikaatt! Demikian setan telah

menari-nari membujukku untuk menuntaskan napsuku.

Mulutku yang rakus terus menyusuri seluruh permukaan tubuh Neng Shifa . Dari kedua puting payudaranya

yang semakin keras, mulutku bergeser ke samping ke arah ketiak Neng Shifa  yang bersih tanpa ditumbuhi

rambut satu helai pun! Rupanya ia rajin mencabuti bulu ketiaknya hingga tampak bersih. Lidahku segera

menjilat-jilat ketiaknya dengan gemas. Tubuh Neng Shifa  semakin menggerinjal. Desisan tak henti-

hentinya keluar dari bibirnya.

Dari ketiak, mulutku terus bergeser turun menyusuri tulang rusuk Neng Shifa  hingga ke pinggangnya yang

putih bersih. Lidahku terusmenyapu-nyapu seluruh permukaan pinggangnya dengan diselingi sesekali

menyedotnya kuat-kuat hingga tubuh Neng Shifa  terhenyak. Aku semakin gemas menyedot-nyedot saat mulutku

sampai ke bagian bawah perut Neng Shifa  yang rata. Rambut-rambut halus nampak menumbuhi perut bagian

bawah Neng Shifa  yang semakin ke bawah semakin melebat. Lidahku menyapu-nyapu bagian perut di antara

selangkangannya dengan pangkal pahanya. Tercium aroma khas perempuan! Sungguh sangat merangsang. Rupanya

Neng Shifa  sangat menjaga kebersihan kawasan pribadinya ini.

Lidahku terus bergerak menyapu seluruh permukaan kulit Neng Shifa . Dan begitu sampai ke gundukan bukit

kemaluannya yang membusung, lidahku segera menyeruak masuk ke dalam celah sempit yang tadi kulihat

berwarna merah jingga. Segera lidahku merasakan ada cairan yang terasa sedikit asin namun nikmat! Tanpa

rasa jijik segera saja kusedot bibir kemaluan Neng Shifa  dengan gemas. Kutelan habis cairan yang keluar

membasahi permukaan liang kemaluan Neng Shifa  tanpa rasa jijik. Pantat Neng Shifa  terangkat seolah

menyambut juluran lidahku hingga wajahku semakin ketat menempel di selangkangannya.

Lidahku menyusup semakin dalam ke lubang kemaluan Neng Shifa  yang pantatnya terangkat-angkat seolah

menyambut juluran lidahku. Mulut Neng Shifa  tak henti-hentinya mendesis-desis dan entah disadari atau

tidak, kedua tangan Neng Shifa  mulai menjambak-jambak rambutku dan kedua kakinya mengait leherku dan

menekankannya ke arah selangkangannya. Pantatnya terus diangkat-angkat seolah-olah memintaku lebih dalam

memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya. Aku yang memang ingin memberikan sensasi lain kepada

majikanku segera bertindak.

Kedua ibu jari tanganku mencoba membentangkan bibir kemaluan Neng Shifa  agar terbuka lebih lebar dan

kugesekkan mulutku dengan liar pada gundukan bukit kemaluan Neng Shifa  yang membusung. Reaksinya

sungguh luar biasa. Neng Shifa  semakin liar menggerak-gerakkan pantatnya dan kakinya semakin ketat

menjepit leherku. Erangannya semakin keras dan tubuhnya terhentak-hentak. Tubuhnya terus berkelojotan

selama beberapa saat lalu gerakannya semakin melemah dan akhirnya kedua pahanya terkulai lemah menyandar

di punggungku. Aku tahu kalau Neng Shifa  telah mencapai klimaks yang kedua kalinya di malam menjelang

pagi ini.

Aku yang belum mengalami orgasme segera saja menempatkan diriku sejajar dengan tubuh Neng Shifa . Tubuh

telanjangku menindih tubuhnya. Kontolku yang ukurannya biasa saja seperti ukuran pria kebanyakan, sudah

sangat keras dan siap tempur. Ukurannya sebetulnya biasa saja, tetapi yang membanggakanku adalah

bentuknya yang agak membengkok saat ereksi. Jadi kalau dilihat sepintas mirip-mirip pisang Ambon yang

bentuknya agak melengkung.

 

Dengan perlahan kutusukkan ujung kepala kontolku (palkon) ke tengah-tengah gundukan bukit kemaluan Neng

Shifa  yang munjung itu. Lubang kemaluan Neng Shifa  yang sudah sangat licin memudahkan ujung palkonku

tergelincir masuk. Napasku terasa sesak saat kepala kontolku mulai terjepit kehangatan bibir kemaluan

Neng Shifa . Sambil menahan napas, kudorong pantatku pelan-pelan hingga sedikit demi sedikit batang

kontolku melesak ke dalam lubang kemaluan Neng Shifa . Hangat sekali rasanya. Apalagi lubang kemaluan

Neng Shifa  sudah basah oleh lendir akibat orgasmenya tadi.

 

“Shh.. Ohh.. Mm.. Aangghh” mulut Neng Shifa  tak henti-hentinya merintih saat batang kontolku menerobos

lubang kemaluannya.

 

Aku tahu Neng Shifa  mungkin agak menyesal karena telah terjerumus dalam jebakan nafsuku. Neng Shifa

hanya pasrah dan dengan terpaksa ia menikmati rahimnya aku tusuk dengan batang kontolku berulang kali.

Aku tahu ia amat menyesali atas apa yang terjadi malam itu, terlihat dari air matanya yang keluar saat

aku berpesta di atas tubuhnya yang telanjang.

 

Kulihat air mata mulai mengembang di pelupuk matanya. Namun semuanya telah terlambat. Kontolku sudah

telanjur memasuki lubang yang seharusnya hanya menjadi hak suaminya. Aku pun tak peduli, bagiku yang

terpenting adalah melepaskan desakan napsu yang terus mendesak-desak dari dalam tubuhku. Di atas ranjang

kamarnya yang mewah itu, aku berhasil membenamkan kemaluanku yang lumayan masih cukup perkasa ke dalam

rahimnya yang masih sempit itu.

 

“Hkkhh..” napasku tertahan saat seluruh kontolku dari ujung hingga pangkal telah terbenam seluruhnya di

dalam jepitan lubang kemaluan Neng Shifa .

 

Air mata Neng Shifa  sudah mulai jatuh satu persatu. Namun aku tak peduli. Kehangatan yang aku rasakan

pada kemaluanku saat masuk kedalam tubuh Neng Shifa  amat membuatku lupa diri. Perlahan-lahan kutarik

pantatku hingga batang kontolku tertarik keluar dan hanya ujungnya saja yang masih menancap dalam

jepitan lubang kemaluan Neng Shifa . Lalu dengan kuat kudorong pantatku yang otomatis batang kontolku

melesak dalam-dalam ke dalam lubang kemaluannya.

 

“Ughh..” tanpa sadar Neng Shifa  mendengus saat ujung kepala kontolku seperti menumbuk sesuatu yang

empuk dan hangat di dalam sana.

 

Aku terus menarik dan mendorong pantatku di atas tubuh Neng Shifa . Perlahan-lahan kurasakan Neng Shifa

mulai ikut mengimbangi gerakanku. Secara perlahan pantatnya bergerak memutar mengikuti irama ayunan

pantatku. Batang kontolku serasa diurut dan diremas-remas dalam jepitan lubang kemaluan Neng Shifa  yang

sempit. Rupanya Neng Shifa  sudah mulai terangsang lagi. Rasa sedih yang ditandai dengan melelehnya air

matanya seakan-akan sirna dengan goyangannya mengiringi ayunan pantatku.Cerpen Sex

 

Bibir Neng Shifa  kembali mendesis-desis dan mengerang. Aku yang sudah tidak tahan segera menyergap

bibirnya yang setengah terbuka dan menyusupkan lidahku ke dalam mulutnya. Lidahku mengorek-ngorek

mulutnya mencari-cari lidahnya. Sungguh sangat segar rasanya bibir perempuan muda. Aku serasa kembali

menjadi muda lagi. Semangat baru seolah terpompa dalam darahku. Aku semakin bersemangat menggenjot

pantatku menghunjamkan batang kontolku ke dalam lubang kemaluannya. Gerakan pantat Neng Shifa  semakin

kencang. Pantatnya bergoyang ke kanan dan ke kiri seirama dengan ayunan pantatku.

 

“Shh.. Mmaangg.. Hh shh.. Oohh..” antara sadar dan tidak Neng Shifa  merintih-rintih menambah gairahku

semakin membara.

 

Aku merasa betapa jari-jari Neng Shifa  mencengkeram kulit punggungku yang sudah mulai keriput dimakan

usia. Agak sakit memang, tetapi apalah artinya bagiku dibanding keberhasilanku menggauli dan menikmati

kemolekan tubuh anak majikanku itu. Lidahku yang masuk jauh ke dalam mulut Neng Shifa  mulai menemukan

perlawanan dari lidah Neng Shifa . Lidahku didorong-dorong oleh lidahnya.

 

Perlahan gairah dalam tubuhku mulai mendesak-desak dan menggelegak. Lalu gerakan ayunan pantatku

kuhentikan sesaat untuk mengambil bantal dan mengganjal pantat Neng Shifa  agar lebih tinggi. Dengan

posisi terganjal bantal, batang kontolku terasa masuk hingga maksimal. Aku juga semakin leluasa

menghunjamkan batang kontolku ke dalam lubang kemaluannya.

 

Gerakan pantat Neng Shifa  seperti kesetanan. Jeritannya semakin keras dan menggairahkan. Kedua tanganku

segera kutempatkan di bawah kedua bongkahan pantat Neng Shifa  dan meremas-remasnya sambil terus

mengayunkan pantatku naik turun. Aku merasa betapa desakan gejolak meletup-letup dari bagian bawah

perutku. Perutku terasa mulai kejang karena menahan desakan yang terus menggelora.

“Ohh.. Shh.. Nenggh.. Ter.. Ruhhsshh oohh.. Neengghh!”

Tanpa sadar aku menggeram dan merintih meminta Neng Shifa  agar terus menggoyangkan pantatnya kencang-

kencang. Neng Shifa  pun rupanya sudah hampir mencapai orgasmenya. Gerakan pantatnya sudah tidak

terkendali. Cengkeraman kuku jarinya semakin kencang di kulit punggungku.

“Aakhh.. Ouchh.. Shh.. Oohh..”

Dengan diiringi desisan yang panjang akhirnya tubuh Neng Shifa  terhentak. Pantatnya terangkat dan

mengejat-ngejat. Dadanya terguncang hebat menandakan ia sudah tidak mampu menahan orgasmenya. Kurasakan

betapa batang kontolku terjepit kencang dan lubang kemaluannya mengedut-ngedut. Tubuh Neng Shifa

bergetar hebat dan berkelojotan selama beberapa saat.

“Ter.. Rushh.. Neenghh.. Aarrghh”

Baca JUga Cerita Sex ABG Montok

Akhirnya tubuhku ikut terguncang. Seluruh tubuhku terasa kejang dan mataku mulai nanar. Cratt.. Cratt..

Cratt.. Cratt.. Crrt.. Crrtt..!! Akhirnya tanpa dapat kutahan lagi batang kontolku menyemburkan air

maniku yang sangat kental dan banyak sekali ke dalam lubang kemaluan Neng Shifa  hingga sebagian tumpah

keluar saking banyaknya. Ya aku telah mencapai puncak kenikmatanku setelah sekian lama berpuasa dan

hanya onani. Tubuhku berkejat-kejat di atas perut Neng Shifa  lalu ambruk menindih tubuh telanjangnya.

Neng Shifa  amat sempurna saat ia berada di bawah tubuhku saat aku genjot tadi. Memang benar kata orang

orang bahwa seorang wanita baru terlihat cantik dan menawan jika ia telah berada di bawah tubuh laki-

laki saat kemaluannya di masuki kemaluan pria. Keringat kami pun akhirnya menyatu dan kain sprei yang

kami pakai akhirnya lembab karena basah oleh percampuran keringat dan juga air mata Neng Shifa  ditambah

lelehan spermaku yang tumpah tadi.

Aku benar-benar merasa puas sekali telah berhasil menikmati kemulusan tubuh majikanku yang cantik ini.

Neng Shifa  rupanya terlalu capai hingga ia membiarkan saja tubuh telanjangnya kupeluk. Ia telah

tertidur karena kecapaian setelah pergumulan tadi.

Saat itu jam di kamar Neng Shifa  sudah menunjukkan hampir pukul 04.30. Kamar Neng Shifa  yang dingin

karena AC membuat tubuhku menggigil soalnya aku tidak terbiasa tidur dengan AC. Apalagi saat itu aku

masih telanjang bulat dan di sisiku tergolek tubuh telanjang Neng Shifa  yang sudah mendengkur halus.

Cantik sekali wajah Neng Shifa  saat dalam kondisi tidur seperti itu. Wajahnya kelihatan begitu damai

dalam tidurnya. Aku sendiri sejak tadi belum mampu memejamkan mataku sepicingpun.

Melihat tubuh telanjang Neng Shifa  yang telentang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya yang

mulus, gairah kelelakianku kembali bangkit. Batang kontolku mulai menggeliat bangun. Sungguh pemandangan

yang terpampang di depanku begitu mempesona. Kulit Neng Shifa  yang putih mulus begitu mengundang gairah

lelaki manapun yang memandangnya. Dadanya yang putih turun naik seiring dengan napasnya yang begitu

teratur. Tanpa dapat menahan diri lagi tanganku segera mengelus kedua buah dada Neng Shifa  yang lembut.

Kupermainkan kedua puting payudaranya dengan jemariku hingga sedikit-demi sedikit mulai mengeras.

“Mmhh..” hanya lenguhan kecil yang keluar dari mulut Neng Shifa  saat tanganku sibuk mempermainkan kedua

puting payudaranya. Lalu setelah tanganku puas bermain-main di kedua bukit payudaranya, mulutku pun

mengambil alih permainan. Kini mulutku mulai mengulum kedua puting payudara Neng Shifa  secara

bergantian. Tanganku secara otomatis bergerak turun ke arah selangkangan Neng Shifa  yang terbuka lebar.

Tubuh Neng Shifa  mulai menggeliat namun matanya masih tetap terpejam.

Mulutku terus bergerak menyapu setiap jengkal tubuh Neng Shifa . Mulutku menjalar dari dada terus turun

ke perut dan berakhir di selangkangan Neng Shifa . Kembali lidahku menyeruak masuk ke dalam gundukan

bukit kemaluan Neng Shifa . Kedua pahanya semakin terbuka lebar seolah mengundangku untuk semakin dalam

memasukinya. Pagi itu aku kembali menyetubuhi tubuh anak majikanku beberapa kali hingga aku benar-benar

puas.

Semenjak kejadian di malam itu. Neng Shifa  mulai mengambil jarak dariku dan tampaknya berusaha

menghindariku. Suaminya tidak tahu tentang peristiwa malam itu. Tampaknya Neng Shifa  memang

merahasiakannya. Aku tahu diri dan tidak berupaya memperlihatkan kepada Neng Shifa  tentang bagaimana

perasaanku padanya. Aku pun bertindak seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa antara aku

dengan Neng Shifa .Cerpen Sex

Kadang saat malam aku rindu untuk mengulangi lagi saat kebersamaan dengan Neng Shifa  namun aku pendam

saja. Dan sebagai pelampiasannya, aku terus mengintip Neng Shifa  bersebadan dengan suaminya. Tampaknya

Neng Shifa  amat menikmati persetubuhan dengan suaminya itu. Aku jadi merasa iri.

Suatu hari suami Neng Shifa  pun kembali bertugas keluar kota lagi. Tampaknya Neng Shifa  biasa biasa

saja. Ia tidak memberikan tanggapan apa pun saat itu. Dan malam saat suaminya tugas, aku berusaha

mendatangi kamar Neng Shifa  dan meminta berbicara. Neng Shifa  memberiku waktu bicara dan dengan

kepintaranku, malam itupun akhirnya aku pun kembali dapat menikmati kehangatan tubuhnya di kamarnya.

Neng Shifa  pun semakin larut olehku. Ini terlihat saat suatu malam tanpa aku duga ia mendatangi kamarku

dan kami pun bersetubuh di kamarku hingga beberapa kali malam itu.

Sampai saat ini pun di saat suaminya tidak ada di rumah, aku selalu memberinya kenikmatan ragawi yang

mungkin tidak ia dapati dari suaminya. Aku pun setelah menikmati kemulusan dan kehangatan tubuh Neng

Shifa , punya keinginan untuk dapat merasakan kehangatan tubuh saudaranya Neng Shana .

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *