Cerita Dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa

Cerita Dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa

Diposting pada

Cerita Dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa | Berkenalan tanpa sengaja iya saat itu hujan deras sekali mengguyur ibu kota, karena jarakn pandang agak terganggu aku dikagetkan oleh bis yang tiba tiba memotong jalan spontan aku kaget dan menginjak rem dan membanting stir kekiri,

Cerita Dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa Cerita Dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa Cerita Dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa b5240e9c sCerita Dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa | Sambil bersungut kulihat metro mini yang sudah demikian penuh mengambil penumpang, aku hanya tertegun memperhatikannya. Saat hendak menjalankan mobil, perneling masuk gigi satu, kulihat seorang gadis melambaikan tangan, segera kembali rem kuinjak, gadis berpakaian putih-putih itu langsung masuk ke mobil.

“Numpang ya mas..?” katanya.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Kehujanan..?” tanyaku sekenanya.

Akhirnya kami berkenalan, “Nama saya Nindy…” ia menyebut namanya sambil kami berjabat tangan.

“Saya Harnoto…” aku pun memperkenalkan diri.

Setelah berbasa-basi sana-sini sambil menanyakan tempat tinggal dan sebagainya, ternyata diatinggal di sekitar Kranji.

cerita dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa | Sepanjang jalan kulirik gadis itu yang ternyata masih kelas tiga SMA, tubuhnya yang terbungkus baju basah agak menggigil, blouse-nya melekat memperlihatkan bra dan isinya yang ukurannya lumayan.Sampai di Kranji, Nindy turun dan melambaikan tangannya. Aku pun menggenjot pedal gas tanpa pernah memikirkannya lagi. Delapan hari setalah pertemuan itu, aku tengah berbelanja kebutuhan anak-anakku, susu, pasta gigi, sabun, dan sebagainya, maklumlah istriku telah meninggal setahun lalu karena penyakit.

Kini aku adalah bapak sekaligus ibu bagi ketiga anakku yang masih kecil-kecil. Yang tertua baru kelas 1 SD.

Saat antri di kasir, tiba-tiba terdengat suara ringan memanggil namaku, “Mas Harnoto..”

Aku menoleh dan tersenyum, lupa-lupa ingat pada seorang cewek dengan t-shirt dan jeans-nya. “Aku Nindy.., lupa ya..?”

Sambil berusaha keras mengingat, aku masih tersenyum, akhirnya aku ingat, ini anak SMA yangkehujanan seminggu lalu.

Singkat cerita kami kembali bersamaan, kali ini Nindy lebih banyak ngobrol tentang berbagai hal, aku hanya menjadi pendengar setia.

Saat mendekati rumahnya, Nindy mempersilakan mampir, tapi aku menggeleng, “Lain kali..,” ujarku basa-basi.

“Mas… lusa aku pesta perpisahan sekolah, boleh dong mas anterin..?” pandangannya begitu memohon.

Akhirnya aku mengiyakan.

cerita dewasa Pengoda Birahi Pria Perkasa | Sore sekitar pukul 18:30, aku menunggu Nindy di tempat yang dijanjikan, karena jalan ke rumahnya tidak mungkin dilalui mobil. Aku berpakaian sepantasnya dan Nindy mengenakan gaun malam ungu, tampak begitu dewasa.Belahan lehernya yang agak dalam membuat dua bukit kembarnya tersembul apabila dia salah posisi. Diam-diam jantungku berdegup melihat semua itu. Pesta perpisahan berlagsung meriah, meski aku kurang bisa menimati, tapi aku duduk bertahan sampai selesai.

Sekitar pukur 23:00, acara selesai. Nindy mengajakku pulang.

“Acaranya menarik nggak..?” tanya Nindy lincah.

Aku hanya tersenyum menatapnya.

“Anak-anak nggak apa-apa ditinggal, maaf ya ngrepotin…” kembali Nindy berkata lincah, aku masih tersenyum.

“Mas, jalan-jalan dulu yuk..!” ajak Nindy.

“Udah malem, mau kemana..?” aku terus-terang jadi bingung.

“Muter-muter aja..!” pintanya lagi, “Sambil ngobrol…”

Kupikir, daripada sumpek, kuiyakan ajakannya.

Kuarahkan mobil menuju jalan tol Jakarta-Cikampek.

Begitu melewati pintu gerbang, “Ke Purwakarta aja mas..!” Nindy memutuskan.

Aku mengangguk. Kami berbagi cerita tentang kehidupan kami sehari-hari.

“Berat ya beban mas, ditinggali tiga anak.” ujarnya pelan, meyakinkan.

Aku hanya menarik nafas mengingat istri tercinta yang telah tiada. Nindy memilih-milih CD dan akhirnya memuttar koleksi lagu-lagu kenangan Rafika Duri.

Kira-kira mendekati Cibitung, Nindy merebahkan kepalanya ke pundakku, kurasakan kelembutan rambutnya yang lebat. Nindy memiliki paduan badan yang seimbang, dengan tinggi 165 cm dan berat 50 kg, sungguh ideal, bibirnya agak tebal dan bentuknya melengkung ke bawah. Kurasakan aroma keharuman tubuhnya.

Entah darimana mulanya, tiba-tiba tangan kriku telah merengkuh pundaknya. Kubelai pipinya yang halus, sementara tangan kanan tetap memegang stir. Nindy tersenyum, dalam keremangan nampak begitu indah tatapan sendu matanya. Nindy semakin dalam membenamkan kepalanya ke pundakku, tangannya tersandar di paha kiriku.

Setelah setahun lebih tidak berdekatan dengan wanita, gelora dadaku tidak lagi tertahankan, jantungku berdegup amat keras tidak beraturan dan celanaku semakin terasa sesak. Nindy kembali tersenyum.

Tanpa kuduga, tiba-tiba Nindy mengecup pipiku, “Aku mengagumi mas.. sejak pertama ketemu.” katanya lirih, amat dekat di telingaku, sehingga dengus nafasnya begitu dekat di pipiku.

Batinku semakin tidak menentu, kembali aku dikejutkan oleh gesekan lembut tangan Nindy tepat di alat vitalku yang terbungkus rapat.

Aku kaget saat Nindy tertawa kecil, “Udah kelamaan ya..?”

Dia terus mengelus-elus alat vitalku yang kian mengeras. Tangan kiriku tiba-tiba punya keberanian untuk menyentuh tonjolan di dada kiri Nindy, bra yang keras membuatku penasaran.

“Sebetantar…” kata Nindy.

Dia merapikan duduknya, menyondongkan tubuhnya ke depan dan tangannya bergerak ke belakang. Melihat gerakan ini aku belum mengerti apa maksudnya. Saat dia melepas bra-nya dan melempar ke jok belakang, barulah aku memahami semuanya.

Tanpa tunggu lebih lama lagi, aku langsung merengkuh pundaknya dan tanganku menyelusup ke dalam gaun ungunya, hatiku bergetar saat menyentuh tonjolan daging empuk di dada Nindy. Kuremas pelan-pelan sambil sesekali memelintir puting yang kecil dan lembut.

Aku terkaget-kaget saat tiba-tiba Nindy melepaskan ikat pinggangku, melemparnya ke jok belakang, menyingkap kemejaku dan kemudian membuka resliting celanaku. Mobil kupacu pelan dan kuarahkan ke lajur kiri, jantungku terus berdegup.

Apalagi saat tangan lembut Nindy menyerobot batang vitalku dan mengeluarkannya, tangan kirinya membimbing tangan kiriku agar terus ke bawah. Dengan segala ketrampilan, jemariku menyentuh bulu-bulu lebut dibalik CD Nindy, mengelusnya sambil menahan nafas.

Nindy menggelinjang kegelian, tangan kanannya terus meremas halus batang vitalku. Mendadak sebuah gerakan tidak terduga dilakukan Nindy, kepalanya menuju ke arah batang vitalku, aku kaget, kugeser tempat duduk, dan kustel agak merebah sandarankursiku, sambil terus menyetir, kuatur agar kepala Nindy leluasa di pangkuanku. Aku tidak mau kepalanya yang indah tersenggol stir.

Pelan-pelan Nindy mengecup, melumat dan menyedot batang vitalku, sambil kaki tetap menginjak pedal gas, pantatku bergerak seirama sedotan mulut Nindy, tangan kiriku berpindah-pindah antarapayudara yang lembut namun kenyal dan selipan di kedua pahanya.

Mobil masil meluncur menuju arah Purwakarta, makin lama sedotan Nindy semakin liar, bajuku berantakan, gaun Nindy juga tersingkap tidak karuan. Nindy terus melumat, menjilat dan menyedot batang vitalku yang kian mengeras, desahan nafasnya dan degup jantungku berpacu bak kuda balap.

Nindy terus menyedot, sementara jemari kiriku menari-nari di selangkangan Nindy. Nindy mendesah, seiring mulaibasahnya selangkangan, batang vitalku pun mengeras. Aku terus memelintir klitoris, dan jemariku menyusup semakin dalam.

Nindy merapatkan kedua kakinya, mulutnya terus mengulum dan menyedot. Tiba-tiba Nindy mendesah dan menggigit batang vitalku, aku kaget.

“Maaf..!” ujarnya.

Rupanya dia telah orgasme. Kembali Nindy mengulum batang vitalku, pinggangku pun bergerak turunnaik, mengikuti sedotan Nindy. Kira-kira melewati Karawang barat, aku merasakan desakan hebat di batang vitalku, segera kutarik kepala Nindy, kulumat bibirnya, sambil tetap berusaha mendapatkan pandangan arah depan, agar tidak menabrak.

Jemari lembut Nindy kini mengambil alih tugas mulutnya, mengocok batang kemaluanku yang telah licin. Pantatku naik karena desakan dari dalam, isyarat ini ditangkap Nindy dengan respon merapatkan dadanya dan gerak tangan kanannya semakin keras berirama, namun tetap lembut.

Tak lama kemudian menyemburlah cairan bahan manusia dari batang vitalku. Nindy menggenggam batang vitalku erat-erat agar tidak bertaburan kemana-mana, dan aku pun lunglai. Nindy tersenyum, memandangku, menyambar tissue dan mulai mengelap batang vitalku yang basah, juga perutku dantangannya.

Nindy terus sibuk mengelap dengan tissue seraya tersenyum padaku.

“Terima kasih… Nindy..,” desahku sambil mengecup keningnya.

Nindy tersenyum, mengecup batang kemaluanku sekali dan membereskan celana serta bajuku. Saat melihat gerbang tol Cikampek, Nindy segera membenahi gaunnya dan duduk manis di jok kiri. Keluar pintu gerbang, aku memutar arah untuk masuk gerbang lagi. Nindy tersenyum, melihat keheranannya penjaga gerbang tol, aku pun tersenyum sambil berpandangan.

Melewati jalan tol, kembali Nindy merebahkan kepalanya ke pundakku. Sejak itu, kami seringmelakukan petualangan kenikmatan sepanjang jalan tol, di atas Grand Civic-ku. Indah sekali.

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *